<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.0.3" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>SD Islam Terpadu Al-Itqon Balaraja Tangerang</title>
	<link>http://sditalitqon.sch.id</link>
	<description>Membangun Generasi Unggul dan Berakhlakul Karimah</description>
	<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 08:19:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kiat Mempunyai Anak Sholeh Author: admin</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=24</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=24#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 08:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Siapa pun pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal: Pertama, hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa pun pasti mengidam-idamkan anaknya kelak menjadi anak yang sholeh. Untuk mewujudkan keinginan ini hendaknya dilakukan beberapa hal: Pertama, hendaknya sejak anak masih berada di dalam kandungan, ibunya harus selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Jangan sekali-kali memakan dan meminum sesuatu yang syubhat atau bahkan haram. Nabi Muhammad SAW. bersabda:</p>
<blockquote><p>“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, neraka lebih berhak baginya.”</p></blockquote>
<p>Jika seseorang itu hartanya tergolong syubhat misalnya, maka hendaknya diupayakan agar harta syubhat itu tidak sampai dimakan, tapi dipergunakan untuk kebutuhan yang lain, sebab makanan yang shubhat atau bahkan haram itu pasti dapat menimbulkan dampak negatif pada jiwa orang yang mengkonsumsinya. Diceritakan, “Suatu ketika Abu Yazid Al Busthami mengadu pada ibunya perihal dirinya yang sudah beribadah kepada Allah SWT. selama kurang lebih 40 tahun, tapi belum dapat merasakan nikmatnya beribadah. Beliau lalu bertanya kepada ibunya, jangan-jangan ibunya pada waktu mengandung atau menyusui dirinya dulu pernah mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Ternyata kekhawatiran Abu Yazid ini terbukti, ibunya tadi mengakui, bahwa pada masa menyusui Abu Yazid dulu, saat naik ke loteng dia pernah meminum air susu satu gelas tanpa mencari tahu dulu siapa yang memilikinya.”</p>
<p>Kedua, orang tua hendaknya senang dan cinta terhadap orang-orang yang sholih, agar anaknya kelak tertulari kesholihan orang-orang sholeh tersebut.</p>
<p>Ketiga, hendaknya orang tua selalu berdo’a kepada Allah subhanahu Wata’ala agar anaknya ditakdir menjadi anak yang baik. Ada sebuah ijazah do’a dari Kiai Romli, beliau mendapat ijazah dari Kiai Kholil Bangkalan, Madura, yaitu:<br />
“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami termasuk orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan kami dan mereka termasuk orang-orang yang sengsara.”</p>
<p>Keempat, hendaknya orang tua mengajarkan anaknya untuk mengenal Allah SWT, dimengertikan tentang tata cara beribadah, halal-haram, hal-hal yang menyebabkan kemurtadan, dan lain-lain. Setelah itu anaknya mau disekolahkan ke mana pun, terserah. Yang penting orang tua sudah menanamkan pendidikan dasar agama yang kokoh.</p>
<p>Dalam persoalan mendidik anak ini, orang tua jangan hanya memikirkan dan menghawatirkan anaknya dalam urusan dunia saja. Sebab jika begini, sepertinya yang akan mati hanya orang tuanya semata. Justru yang harus selalu diperhatikan dan dipikirkan oleh orang tua adalah bekal apakah yang akan dibawa dirinya dan anaknya nanti ketika menghadap Allah SWT. sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS. menjelang ajalnya. Allah mengisahkan peristiwa ini dalam Surah Al Baqarah, ayat 133:أ“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133).</p>
<p>Sebagai orang tua, kita jangan hanya memikirkan:<br />
“Apa yang engkau makan setelah kepergianku?”<br />
Jika orang tua memiliki anak yang sholeh, maka dia tak ubahnya seseorang yang mempunyai usia panjang, meski umurnya pendek sekalipun, karena setiap saat dia akan selalu memperoleh kiriman amal.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=24</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>Tips / Cara untuk menciptakan / mencetak anak cerdas, jenius, dan kreatif,</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=23</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 07:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul:
1. Makanan
Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>setidaknya ada 5 hal yang harus diperhatikan betul:</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_QP-gX1b4ZXU/R8LCE87PZkI/AAAAAAAAAIE/7DAoMYy5Xl8/s1600-h/anak+cerdas.jpg"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_QP-gX1b4ZXU/R8LCE87PZkI/AAAAAAAAAIE/7DAoMYy5Xl8/s200/anak+cerdas.jpg" /></a>1. Makanan<br />
Ini amunisi otak yang sangat penting. Anak-anak yang kekurangan gizi umumnya memiliki otak yang kurang berkembang. Konsumsi ikan yang cukup, ASI, vitamin, dan mineral merupakan amunisi yang tepat bagi otak. Apa pun kursus yang Anda berikan untuk anak anda tanpa memberinya makanan yang tepat, samalah artinya dengan mengisi ruangan tanpa menguatkan dinding-dindingnya. Gizi adalah bahan baku proses-proses seluler, terutama untuk pembangunan struktur otak.<br />
2. Lingkungan<br />
Makin bervariasi lingkungan hdup anak Anda, makin baik perkembangan otaknya. Warna, bentuk, orang-orang yang berbeda, suasana yang bervariasi, dan lain-lain lebih mudah menstimulasi otak dibandingkan yang homogen. Jika Anda menciptakan lingkungan yang kaya dengan permainan, otak anak Anda berkembang dengan sangat pesat. Karena itu, sebisa mungkin, tempat tidur, tempat belajar (terutama di sekolah-sekolah), dan ruangan keluarga dapat diubah setiap jangka waktu tertentu. Anda perlu juga mengajaknya ke tempat-tempat yang penuh dengan hal-hal baru, seperti di pantai, gunung, dan lain-lain. Semakin bervariasi lingkungan, semakin cepat koneksi sel saraf terjadi.</p>
<p>3. Pengalaman emosional<br />
Sistem limbik lebih dulu matang dibandingkan dengan kulit otak. Akibatnya, anak-anak menjadi sangat peka terhadap rangsangan dan pengalaman emosional. Semua pengalaman emosional yang diberikan pada rentang usia 0-7 tahun ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk jalinan antar sel saraf. Pada usia ini, kontrol diri, kesabaran, kerja sama, empati, dan lain-lain lebih mudah dilatih dan tertanam kuat dalam otak dibanding berhitung, membaca, atau kegiatan-kegiatan kalkulatif lainnya. Jangan lupa, kematangan emosional ini lebih menentukan kesuksesan anak Anda di masa depan ketimbang kemampuan berhitung dan main komputer.</p>
<p>4. Stimulasi rasional<br />
Hal-hal yang baru (<em>novelty</em>), menantang (<em>challenge</em>), padu (<em>coherent</em>), dan penuh makna (<em>meaningful</em>) lebih cepat memengaruhi otak ketimbang hal-hal yang lazim dan biasa. Jika setiap hari Anda memperkenalkan kata-kata baru kepada anak Anda, teknik-teknik baru dalam berhitung, tugas-tugas yang menantang dan penuh makna (misalnya, membuat percobaan fisika yang berkenaan dengan hal-hal sehari-hari), otaknya akan lebih cepat berkembang. Hal-hal yang menantang, seperti menemukan bentuk tertentu dalam banyak bentuk, dapat memperbanyak hubungan sel saraf. <em>Origami</em> (seni melipat kertas) adalah salah satu cara memperbanyak hubungan sel saraf. <em>Attention of details</em> juga merangsang otak. Berikan sebuah batu kerikil atau dedaunan kepada anak-anak. Mintalah mereka mencermati alur, warna, bentuk, dan ciri-ciri lain yang tidak tampak jika hanya dilihat sepintas. Perhatian pada hal-hal kecil, terutama bentuk dan warna, membuat sinaps saraf bertambah banyak.</p>
<p>5. Aktivitas fisik<br />
Aktivitas fisik memengaruhi otak dengan tiga cara: 1) meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Artinya, oksigen, gula, dan zat gizi juga bertambah. 2) Memengaruhi produksi hormon NGF (<em>Nerve Growth Factor</em>); dan 3) merangsang produksi dopamin. Zat ini berfungsi penting dalam menata perasaan (<em>mood</em>) anak Anda. Semakin sering dan terampil ia melakukan kegiatan fisik, semakin baik perkembangan otaknya.</p>
<p class="MsoNormal">Lima hal di atas tidak berdiri sendiri. Semuanya saling melengkapi dan saling memengaruhi. Anda tidak boleh mengedepankan dan memprioritaskan satu di antara yang lain. Jika Anda harus memilih yang utama, disarankan untuk melatih emosi anak Anda lebih dulu. Kematangan emosi memerlukan waktu tertentu untuk berkembang. Sedangkan kecerdasan rasional dapat Anda tingkatkan kapan saja Anda mau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=23</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>10 TIP TINGKATKAN ASUPAN SERAT</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=22</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=22#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 07:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun menyadari bahwa sayur dan buah merupakan sumber antioksidan yang berperan penting dalam mencegah penuaan dni, banyak dari kita tidak suka mengkomsumsinya. berikut ini, beberapa tip yang mungkin dapat membantu untuk meningkatkan asupan buah dan sayur.
1. Saat makan sereal atau yoghurt , tambahkan pisang, stroberi, atau buah favorit
2. Setiap kali makan, jangan lupa sayur
3. Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meskipun menyadari bahwa sayur dan buah merupakan sumber antioksidan yang berperan penting dalam mencegah penuaan dni, banyak dari kita tidak suka mengkomsumsinya. berikut ini, beberapa tip yang mungkin dapat membantu untuk meningkatkan asupan buah dan sayur.<br />
1. Saat makan sereal atau yoghurt , tambahkan pisang, stroberi, atau buah favorit<br />
2. Setiap kali makan, jangan lupa sayur<br />
3. Pada saat menyantap makanan utama , dahulukan sayurnya<br />
4. Bila menumis sayuran , beri sedikit protein hewani seperti udang, ayam, atau daging sapi<br />
5. Saat membuat sup , beri wortel , tomat, brokoli, sebagai pelengkap<br />
6. Saat membuat kue dadar atau pudding, tambahkan buah-buahan segar. Untuk saus pudding, gunakan saus buah. Begitu juga bila membuat muffin.<br />
7. Nasi goreng atau skotel , bila ditambahi mixed vegetable , rasanya ok lo!<br />
8. Sedapkan burger atau sandwich , dengan tomat, lecttuce, atau daun selada<br />
9. Untuk ngemil , ambillah buah sebagai ganti gorengan, coklat ataupun kue<br />
10. Sediakan selalu buah sebagai makanan penutup. Sebaiknya buah yang disediakan berganti ganti agar tidak bosan dan didapatkan aneka vitamin dan mineral
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=22</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Kerutan Halus Pada Wajah Dengan Tomat</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=21</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 07:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>misluli</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Kerutan halus yang mulai muncul pada wajah, khusunya bagian dagu, garis senyum dan dahi juga sebagai tanda bahwa Anda sudah tidak muda lagi. Untuk mencegahnya , Anda bisa menggunakan berbagai teknik, mulai dengan aneka krim anti kerut, sampai tindakan operasi ( face lifting ). Selain perawatan tersebut, Anda juga bisa mengimbanginya dengan perawatan internal ( [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerutan halus yang mulai muncul pada wajah, khusunya bagian dagu, garis senyum dan dahi juga sebagai tanda bahwa Anda sudah tidak muda lagi. Untuk mencegahnya , Anda bisa menggunakan berbagai teknik, mulai dengan aneka krim anti kerut, sampai tindakan operasi ( face lifting ). Selain perawatan tersebut, Anda juga bisa mengimbanginya dengan perawatan internal ( dari dalam ) , salah satunya mengkomsumsi tomat.</p>
<p>Tomat yang terkenal dengan kandungan lycopene-nya diduga dapat mencegah kerut dan bintik hitam akibat sinar matahari. 80% kerut disebabkan oleh sinar matahari dan lycopene merupakan salah satu antioksidan ampuh sehingga dapat menghentikan proses penuaan yang diakibatkan paparan sinar matahari.</p>
<p>Menurut para ahli, menambahkan tomat ke dalam menumendatangkan banyak manfaat . Lycopene juga terkenal dengan khasiatnya dalam memerangi jantung dan kanker. Jadi selain untuk kesehatan kulit wajah, Anda juga bisa mencegah penyakit lainnya.</p>
<p>Mengkomsumsi pasta tomat yang kaya lycopene secara dramatik dapat mengurangi kerusakan kulit yang disebabkan sinar matahari. Makan pasta tomat dicampur dengan minyak zaitun selama 10 minngu sebagai tambahan dalam menu Anda yang biasa. Lycopene adalah antioksidan yang sangat ampuh dan senjata hebat dalam mencegah kerusakan kulit yang disebabkan radikal bebas.</p>
<p>Tambahkan sejumlah hidangan tomat yang dimasak ke dalam menu Anda seperti spaghetti, pizza. sup tomat atau lainnya. Jika memungkinkan pilihlah tomat yang dimasak daripada mentah. Meski tomat mentah menagndung banyak lycopene tetapi bila dimasak maka kandungannya akan meningkat 4 kali lipat.</p>
<p>Tambahkan irisan tomat segar pada sandwich dan hamburger. Gantilah mayonnaise dalam sandwich dan hamburger denagn pasta tomat, maka Anda akan mendapatkan cita rasa yang sama sekali beda.</p>
<p>Ada baiknya Anda minum 1 gelas jus tomat setiap hari daripada jeruk. Karena dengan meminum jus tomat maka Anda akan mendapatkan lycopene dan vitamin C. Jika Anda tidak suka dengan tomat maka Anda bisa meminum suplemen lycopene tetapi sebaiknya konsultasikan kepada dokter.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=19</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 14:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=17</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 08:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN PEMBEBASAN SEBAGAI ALTERNATIF PENDIDIKAN DI INDONESIA</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=12</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 06:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kamaruzzaman</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[ oleh : Qomaruzzaman, M.Ed*

Prolog
Mewacanakan pendidikan sepertinya kita harus terus berputar pada poros yang sama (vicios circle), betapa tidak sejak negeri ini dikenalkan dengan pameo “developmentalisme” era 70-an sampai pada masa semangat “reformasi’ saat ini, belum juga terjaga dan beranjak dari problem yang sama. Mengapa harus peduli pada problem pendidikan?. Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><font face="Times New Roman" size="3"> oleh : Qomaruzzaman, M.Ed*</font></h1>
<h1><font face="Times New Roman" size="3" /></h1>
<h1><font face="Times New Roman" size="3">Prolog</font></h1>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Mewacanakan pendidikan sepertinya kita harus terus berputar pada poros yang sama (<em>vicios circle</em>), betapa tidak sejak negeri ini dikenalkan dengan pameo “developmentalisme” era 70-an sampai pada masa semangat “reformasi’ saat ini, belum juga terjaga dan beranjak dari problem yang sama. Mengapa harus peduli pada problem pendidikan?. Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi (<em>mutual simbiosis</em>). Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tampa diawali melalui pendidikan, begitu juga pendidikan yang baik tidak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan adanya perubahan, utamanya paradigma yang mendasarinya. Bahkan ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan, ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas. Pendidikan adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan, sungguhkah?,<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra idiologi hegemonik, ditransformasikan kepada para pelaku perubahan sosial.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Paulo Freire seorang pemikir dan aktivis pendidikan kritis, mempunyai pendapat cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial. Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire (2000).</font><a href="#_ftn1" name="_ftnref1" />[1]<font face="Times New Roman" size="3"> bahwa pendidikan membangkitkan kesadaran diri (<em>conscientization</em>) manusia sebagai subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan sebagai seorang pembebas bagi manusia lain (<em>liberatif action</em>). Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun di atas basis relasi intersubjektif, masyarakat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Tatanan sosial yang demokratis menurut Freire</font><a href="#_ftn2" name="_ftnref2" />[2]<font size="3"><font face="Times New Roman"> sangat kondusif  bagi humanisme dan pembebasan.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Beranjak dari signifikansi utama pendidikan diatas, tulisan ini disajikan dengan semangat untuk  melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Pengalaman sebagai peserta didik selama ini, baik secara sadar maupun tidak sengaja, telah memungkinkan saya ‘memergoki’ sejumlah persoalan yang meresahkan.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<h1><font face="Times New Roman" size="3">Potret Buram Pendidikan di Indonesia </font></h1>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pernahkah anda merasa betapa sekolah sedemikian membosankan atau bahkan menakutkan? Para murid diberikan setumpuk PR, kekerasan terhadap anak didik dan ekstrakulikuler yang sangat memaksa dan mengekang, mengapa?, ingat kasus bunuh dirinya Heryanto siswa SD di Garut, karena tidak mampu membayar uang kegiatan ekstra sebesar Rp. 2500 dan seorang tukang becak di Yogyakarta merelakan menjual becaknya hanya karena untuk membiayai studi tour anaknya sebesar Rp. 380.000</font><a href="#_ftn3" name="_ftnref3" />[3]<font size="3"><font face="Times New Roman">. Belum lagi problem banyaknya siswa yang kecewa bahkan stress dan nyaris bunuh diri lantaran tidak lulus UAN, (semoga saja UN tahun ini tidak terjadi seperti peristiwa yang memprihatinkan tahun lalu). Fenomena anyar yang menarik adalah akan diadakannya ujian negeri bagi sekolah dasar, mereka (baca; siswa SD) akan mengikuti ujian seperti yang dilakukan kaka-kakak mereka di kelas 9. Sekolah yang kita bayangkan sebagai “kabin” belajar, bermain,  berteman, mengembangkan potensi dengan prinsip pendidikan melalui pendekatan kognitif, afektif dan psikomotorik, malah menjadi sumber kegelisahan, kekhawatiran dan kesusahan. Ditambah lagi guru yang otoriter, metode pengajaran yang monoton dan membelenggu, tidak <em>up to date</em>, begini dilarang begitu dilarang, dan sebagainya. Hal ini membuat peserta didik tidak bebas mengembangkan potensi,dan akhirnya hanya menjadi pengikut semua ujar guru yang kurang kreatif sekaligus miskin daya kritis. Kalau dilihat lebih cermat, pendidikan yang membelenggu itu merupakan tipikal sistim pendidikan negara jajahan. Sejak zaman kolonial Belanda, upaya-upaya yang mencegah tumbuhnya kecerdasan untuk berpikir bebas, daya kritis terhadap realitas, yang berujung kepada kesadaran terhadap posisi diri di struktur sosial, memang diseting secara sistematis. Tujuannya jelas yakni, menjaga agar masyarakat di Hindia Belanda tetap bodoh, tidak sadar diri sehingga kekuasaan kolonial tidak terancam.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Sistem pendidikan dengan sendirinya menjadi instrumen untuk melanggengkan kekuasaan. Pendidikan hanya semata-mata memasukan peserta didik kedalam sistem yang sudah ada : mencetak dokter, akuntan, teknisi, ahli hukum dst, yang loyal terhadap penguasa. Nilai-nilai, ide-ide, preferensi, yang ditransmisikan melalui institusi pendidikan dengan sendirinya ditunjukan untuk membentuk kesadaran yang menafsirkan penindasan terhadap sebagai hal yang wajar, serta benar dan baik secara ideologis maupun kultural.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Sayangnya, model pendidikan seperti ini tetap berlangsung hingga sekarang. Walaupun dengan semangat reformasi, dan kecendrungan pemerintah terhadap sektor pendidikan semakin intens namun jika mentalitas dan kesadaran masyarakat belum terbangun, akhirnya system itupun berlum memunculkan adanya peningkatan kulitas secara kontinyu dan berkelanjutan.  Dalam konteks kekinian dimana penjajahan tidak lagi menemui bentuknya yang primitif, pendidikan di Indonesia dan negara- negara dunia ketiga pada umumnya belum beranjak berubah. Dewasa ini, tatkala Barat kembali hadir dengan kekuatan ekonominya, sistem pendidikan dengan sendirinya mengabdi pada kepentingan modal. Meski dibalut modernitas zaman kemilau dengan sains mutakhir hingga teknologi canggih, karakter pendidikan tetap stagnan. Visi dan misi pendidikan yang tercermin dalam kurikulum orientasinya Cuma satu : bagaimana mencetak lulusan yang akseptabel terhadap pasar, baik skill maupun kesamaan kerangka berpikir. Pendek kata, di era Kapitalisme berkuasa ini, nasib pendidikan tak jauh–jauh amat dari sebelumnya : membangun konformitas kesadaran peserta didik terhadap struktur yang sedang berlaku.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<h2><font face="Times New Roman" size="3">Pemetaan Aliran Pendidikan </font></h2>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pemetaan ideologi atau aliran pendidikan yang yang penulis gunakan adalah mengikuti kategori Giroux dan Arnowitz (1985)</font><a href="#_ftn4" name="_ftnref4" />[4]<font size="3"><font face="Times New Roman"><sup> </sup>dalam bukunya <em>Education Idiologie</em>s Dengan pemetaan ini kita dapat memahami mengenai paradigma apa yang menjadi pijakan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Pertama, <strong>paradigma Konsevatif</strong>. Bagi mereka ketidaksesuaian derajat dalam masyarakat merupakan suatu ketentuan Tuhan, suatu hal yang mustahil boleh di hindari dan dan sudah merupakan suatu ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Perubahan sosial bagi aliran ini bukanlah suatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan sosial hanya akan membuat manusia lebih sengsara. Dengan pandangan seperti itu, kaum konservatif lama tidak menganggap rakyat memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kodisi mereka. Bagi aliran ini, mereka yang mederita, yaitu orang–orang miskin, buta huruf dan golongan tertindas menjadi demikian karena salah mereka sendiri, karena ternyata ramai orang lain mampu bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu yang dicari. Paradigma konsevatif cenderung lebih menyalakan subjeknya. Mereka sangat melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat dan menghindari konflik dan pertentangan.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Kedua, <strong>pandangan paradigma Liberal</strong>. Golongan ini berawal dari keyakinan bahwa sesungguhnya ada masalah dimasyarakat, tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan pendidikan seperti itu tugas pendidikan juga hubungannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Pada umumnya yang mereka lakukan hanya reformasi “kosmetik” (nampak luaran saja) seperti, perlunya pembangunan kelas dan kemudahan baru, memodernkan peralatan sekolah dengan mengadakan laboratorium komputer yang lebih canggih, biaya operasional sekolah (BOS) yang terkadang diselewengkan oleh pihak pimpinan sekolah atau memark up jumlah siswa, serta usaha lain untuk menyehatkan rasio murid–guru, dan yang paling ketara adalah pengembangann pendidikan nasional kecenderungannya pada projek oriented bukan pada kwalitas SDM.  Bagi kaum Liberal dan Konservatif, sama–sama berpendirian bahwa pendidikan adalah a-politik dan <em>“excellence</em>” haruslah merupakan sasaran utama pendidikan. Pendekatan Liberal inilah yang mendominasi segenap pemikiran tentang pendidikan formal seperti sekolah yang berlaku pada masa ini ( hampir seluruh negara kapitalis ). Asas dari pendidikan ini adalah Liberalisme, yaitu suatu pandangan yang menekankan pengembangan kemampuan, melindungi hak dan kebebasan serta mengidentifikasi problem dan upaya sosial secara instrumental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Konsep pendidikan dalan tradisi liberal berakar dari cita–cita Barat tentang individualisme dan rasionalisme liberal.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Ketiga, <strong>Paradigma kritis</strong>. Pendidikan bagi mereka merupakan arena perjuangan politik. Jika bagi konservatif pendidikan bertujuan untuk menjaga status quo, sementara bagi kaum liberal untuk perubahan moderat, maka paradigma kritis menghendaki struktur secara fundamental dalam politik dan ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikaan merupakan refleksi kritis, terhadap ‘<em>the dominant</em> ‘ kearah transformasi sosial. Pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan ”  kembali manusia yang mengalami dehumanisasi.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"> <br />
</font></font></p>
<h2><font face="Times New Roman" size="3">Pendidikan Pembebasan Freire ; sebuah alternatif </font></h2>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Tiga paradigma Giroux diatas masing- masing membawa dampak berupa karakter kesadaran manusia yang oleh Freire digolongkan menjadi tiga.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Pertama <strong>kesadaran magis</strong>, yakni suatu kesadaran masyarakat tidak  mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya saja masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar manusia (natural maupun supra natural ) sebagai penyebab dan ketakberdyaan. Dalam dunia pendidikan jika proses belajar mengajar tidak mampu melakukan analisis terhadap suatu masalah maka proses belajar mengajar tersebut dalam perspektif Freirean disebut sebagai <strong><em>pendidika fatalistik</em></strong>. Proses pendidikan lebih merupakan proses menirukan, dimana murid mengikuti secara buta perkataan dan pandangan guru. Proses pendidikan model ini tidak memberikan kemampuan analisis, Kaitan antara sistem dan struktur terhadap suatu permasalahan satu masyarakat. Murid secara dogmatik menerima ‘ kebenaran ‘ dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami makna ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Paradigma tradisional yang menggunakan paham pendidikan dan sekolah konservatif di kategorikan dalam kesadaran magis ini.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Kesadaran kedua adalah <strong>kesadaran naïf</strong>. Keadaan yang dikatagorikan dalam kesadaran ini lebih melihat aspek manusia  menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam kesadaran ini masalah etika, kreativitas <em>need for achieve</em>ment dianggap sebagai suatu perubahan sosial. Jadi dalam menganalisis mengapa suatu masyarakat miskin, bagi mereka disebabkan karena salah masyarakat sendiri, yakni mereka malas, tidak memiliki jiwa kewiraswsataan, atau tidak memiliki budaya membangun, dan seterusnya. Oleh karena itu “<em>man power development</em>” adalah suatu yang diharapkan akan menjadi pemicu perubahan. Pendidikan dalam konteks ini juga tidak mempertanyakan sistem dan struktur, bahkan sistem dan struktur yang ada adalah sudah baik dan benar, merupakan faktor  given; oleh sebab itu tidak perlu dipertanyakan. Tugas sekolah adalah bagaimana membuat dan mengarahkan agar murid bisa masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut. Paradigama umat modernis yang menggunakan paham pendidikan liberal dapat dikatagorikan kedalam kesadaran naïf.<br />
</font></font><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Kesadaan ketiga disebut <strong>sebagai kesadaran Kritis.</strong> Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “<em>blaim the victims</em>” dan lebih menganalisis untuk secara kritis menyadari struktur dan system sosial , politik, ekonomi dan budaya, dan akibatnya pada keadaan masyarakat. Paradigma kritis dalam pendidikan, melatih murid untuk mampu mengidentifikasi “ketidakadilan” dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur  itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah  menciptakan ruang dan  keselamatan agar peserta didik terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Paradigma umat Islam transformatif yang menggunakn model pendidikan kritis dapat dikatagorikan kedalam kesadaran kritis.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Dalam pemetaan diatas, sistem pendidikan di Indonesia selama ini masih jauh untuk dikatagorikan pendidikan kritis. Dapat pula dikatakan, dalam tarap tertentu pendidikan kita justru terjebak dalam paradigma konservatif, meskipun kalau dilihat secara umum pendidikan nasional termasuk dalam mainstream liberal. Hal ini ditandai dengan adanya privatisasi pendidikan, model subjek-objek (walau secara de yure saat ini menggunakan model KTSP), serta orientasinya yang kental dengan idiologi kapitalisme.</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Dewasa ini, ketika dunia didera gelombang globalisasi, pendidikan kian bergeser dari status dan fungsi awalnya. Pendidikan mau tidak mau dipaksa tereduksi hanya sebagai komoditas dan harus terbingkai dalam logika pasar. Disatu sisi ia menjadi eksklusif dan tak terjangkau oleh kalangan bawah, sehingga darwinisme sosialpun sulit dielakan berlaku,  sedang disisi lain visi dan misinya tidak keluar dari koridor ekonomi (menyiapkan peserta didik sebagai <em>homo economicus</em> semata). Peserta didik disibukkan oleh rutinitas studi-studi berdasarkan kurikulum yang juga terasing dari kehidupan sosial. Misalnya, ketika bicara sains dan teknologi, peserta didik digiring untuk memusatkan diri pada teknologi yang bias sektor urban. Misalnya, mesin-mesin industri berat dan bukan prihal teknologi tepat guna, yang murah mudah dijalankan dan langsung memberi manfaat kepada masyarakat kecil. Atau kearifan lokal misalnya memberikan materi tentang budaya atau tradisi lokal baik keterampilan, kesenian maupun life skill tentang daerah tersebut. </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Lebih parah lagi, pendidikan kita sulit dibedakan dengan pelatihan atau training. Metode searah sulit dipungkiri memupus kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan corak berfikir bebas. Sekedar contoh, ketika masa  SD kita acapkali diberi pertanyaan dimana kita hanya memberi satu kata sebagai jawaban. Misalnya begini, “Pak Tani disawah sedang …..”Untuk menjawab pertanyaan ini murid SD tidak punya banyak pilihan</font><a href="#_ftn5" name="_ftnref5" />[5]<font face="Times New Roman" size="3">. Guru secara sepihak akan menyalahkan bila isinya bukan mencangkul, memupuk atau memanen. Padahal dalam system yang demokratis seorang murid bisa mengisinya dengan misalnya, membaca Koran (karena sedang istirahat ), melakukan rembug mengenai irigasi dsb. Sejalan dengan penjelasan Freire mengenai tiga kesadaran mengenai dampak pengadopsian tiga paradigma pendidikan, baik kesadaran magis maupun kesadaran naïf begitu kuat mengakar dalam masyarakat kita. Budaya fatalis misalnya, adalah hal umum dan membudaya dikalangan masyarakat terutama Jawa. Sifat nrimo ing pandum (menerima jatah atau nasib) selain sebagai hasil feodalisme, tak lepas pula dari model pendidikan selama ini yang justru makin membenamkan semangat inisiatif, inovatif, dan kekritisan masyarakat. Atau yang lebih buruk lagi ketika kesadaran naïf akibat hegemoni pardigma liberal menjangkiti sebahagian besar masyarakat dihadapkan melambungnya biaya menuntut ilmu akibat komersialisasi pendidikan, sedikit orientasi mahasiswa mengalami pergeseran. Atau bisa dikatakan idialisme angkatan  muda terjanngkit erosi yang membahayakan. Ketika ada tuntutan untuk cepat lulus, baik karena soal biaya maupun standarisasi yang ditetapkan oleh pasar, perhatian mahasiswa sedikit banyak terserap untuk studi. Perhatian terhadap persoalan sosial, lingkungan, dan sebagainya. Yang nyata dihadapi masyarakat cenderung terabaikan. Dan setelah lulus, orientasi utamanya bukanlah bekerja demi kepentingan umat. Melainkan terjebak dalam pragmatisme pasar, tertanam filosofi liberal yang memerosotkan potensi-potensinya untuk melakukan atau setidaknya berjalan searah dengan kepentingan transformasi sosial. </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Para ilmuan misalnya, akibat proses pendidikan yang sangat liberal sulit untuk tidak menjadi – meminjam istilah Heru Nugroho- intelektual “asongan”, yang menjajakan pengetahuannya untuk riset maupun  pengembangan wacana yang sering kali adalah proyek pemilik modal. Terjebaknya para ilmuan ini memberi kontribusi besar terhadap macetnya ilmu-ilmu sosial dan ketidakmampuannya menjadi bagian dari problem solving dalam masyarakat. Ilmuan tak jarang terjebak dalam studi-studi keilmuan yang sebenarnya diseting oleh idiologi maenstrim yang kontra transformasi. Dalam bahasa Ali syari’ati (1994)</font></font><a href="#_ftn6" name="_ftnref6" />[6]<font face="Times New Roman" size="3"> seorang cendikiawan <em>Rausyhanfikr</em> adalah mereka yang mengabdi pada masyarakat dan perubahan sosial, dalam perspektif Gramchi (2000)</font><a href="#_ftn7" name="_ftnref7" />[7]<font face="Times New Roman" size="3"> seorang cendikiawan jangan terjebak menjadi intelektual <em>organic,</em> yaitu seorang ilmuan yang menjual keilmuannya untuk kepentingan pribadi dan structural. </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Epilog<br />
</font></font></strong><font face="Times New Roman" size="3">Rangakian persoalan pelik diatas telah menggiring dunia pendidikan kita menuju kerusakan sistemik. Namun bukan berarti menjadi sah bagi kita untuk bersikap apatis. Dan, kita harus kembali belajar bersama Freire prihal pendidikan yang membebaskan, kritis dan transformatif. Mengurai benang merah yang terlanjur jalin berkelindang tak tentu ujung pangkalnya, Freire menekankan pentingnya pengaharapn (<em>hope</em>) dan impian (<em>dream</em>) dua hal ini jelas bukan sebagai ektase yang penuh ilusi dan tipu daya. Hanya saja harapan dan impian harus ditindak lanjuti dengan aktualisasi, sehingga kekhawatiran akan efek ekstasi tadi tidak terjadi dan berlanjut. Kedepan, terbentang pekerjaan rumah yang luar biasa berat. Perubahan baik kurikulum, perangkat aturan legal/kebijakan, maupun pergeseran paradigma yang sepertinya tidak bisa ditolak jika menginginkan perubahan yang substantif, tidak sekedar “kosmetik” yang ingin diwujudkan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3" /><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p><br clear="all" /> </p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">*  <em>Penulis adalah Direktur SDIT AL ITQON Balaraja<br />
</em></font></font><em><font face="Times New Roman" size="3"> </font></p>
<p></em></p>
<div><br clear="all" /><font face="Times New Roman" size="3"><hr align="left" width="33%" size="1" /></font></p>
<div id="ftn1"><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[1]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> Paulo Freire. 2000. <em>Pendidikan kaum tertindas</em>. Jakarta: LP3ES</span><br />
</font></font></div>
<div id="ftn2"><a href="#_ftnref2" name="_ftn2" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[2]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>Paulo Freire. 1984. <em>Pendidikan sebagai praktek pembebasan</em>. Jakarta: Gramedia.<br />
</font></font></div>
<div id="ftn3"><a href="#_ftnref3" name="_ftn3" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[3]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>Tempo, Oktober 2003 dan Radar Jogja, 12-10-2003<br />
</font></font></div>
<div id="ftn4"><a href="#_ftnref4" name="_ftn4" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[4]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>William F.O’Neill 1981. <em>Education Idiologies</em>. California: Goodyear Publishing Company, Inc<br />
</font></font></div>
<div id="ftn5"><a href="#_ftnref5" name="_ftn5" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[5]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>Pendidikan yang kreatif dan inovatif dapat dilihat pada konsep pendidikan di sekolah Timoe Gakuen di Jepang, sebuah sekolah di gerbong keretaapi, dimana murid bebas berpendapat, brekreasi, kemandirian, bebas menjadi diri sendiri atau sekolah radikal Summerhill di London. Lihat buku Tetsuko Kuroyanagi.2004. <em>Totto Chan; gadis cilik di jendela</em>. Jakarta:Gramedia. Buku Jhon Walmsley.1970. <em>Neill  &#038;Summerhill</em>.England: Penguin Book.<br />
</font></font></div>
<div id="ftn6"><a href="#_ftnref6" name="_ftn6" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[6]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>Ali Syariati.1994. <em>Tugas cendikiawan muslim</em>.Jakarta : Rajawali Pers.<br />
</font></font></div>
<div id="ftn7"><a href="#_ftnref7" name="_ftn7" /><span lang="EN-GB"><span lang="EN-GB">[7]</span></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span lang="EN-GB"> </span>Ibid.<br />
</font></font></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRSS>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Rujukan</title>
		<link>http://sditalitqon.sch.id/?p=9</link>
		<comments>http://sditalitqon.sch.id/?p=9#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 04:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
		
	<category>Informasi</category>
		<guid isPermaLink="false">http://sditalitqon.sch.id/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[BUKU ASAS REFERENSI TIM FASILITATOR
1. Bobbi DePorter &#038; Mike Hernacki. Quantum Learning. Bandung: Kaifa, 2002
2. Bobbi DePorter &#038; Mike Hernacki. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa, 2004
3. Hisyam Zaini dkk. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD, 2004
4. M. Ruswandi. Games For Islamic Mentoring. Bandung: Syaamil, 2005
5. Tetsuko Kuroyanagi. Totto Chan; Gadis cilik dijendela. Jakarta: Gramedia, 2004
6. M. Ibnu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BUKU ASAS REFERENSI TIM FASILITATOR</p>
<p>1. Bobbi DePorter &#038; Mike Hernacki. Quantum Learning. Bandung: Kaifa, 2002<br />
2. Bobbi DePorter &#038; Mike Hernacki. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa, 2004<br />
3. Hisyam Zaini dkk. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD, 2004<br />
4. M. Ruswandi. Games For Islamic Mentoring. Bandung: Syaamil, 2005<br />
5. Tetsuko Kuroyanagi. Totto Chan; Gadis cilik dijendela. Jakarta: Gramedia, 2004<br />
6. M. Ibnu Abdul HS. Cara Nabi Mendidik Anak. Jakarta: Al I&#8217;tishom, 2004<br />
7. Maulana Yusuf Al Kandhalawi. Kehidupan para sahabat. Bandung: Zadulmaad, 2006<br />
8. Teachers guide; majalah guru professional. Majalah bulanan<br />
9. Ensiklopedi
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRSS>http://sditalitqon.sch.id/?feed=rss2&amp;p=9</wfw:commentRSS>
		</item>
	</channel>
</rss>
